Bahagianya Tuh disini
Bahagianya tuh disini
Rasa syukur merupakan rasa
terimakasih kita kepada Allah SWT, atas segala nikmat yang telah
dikaruniakan-Nya. Ya, sebenarnya cukup sederhana untuk bisa merasa bahagia,
yaitu mau belajar mensyukuri apa yang telah kita miliki, bukan malah terisaukan
dengan segala sesuatu yang belum kita miliki dan lalai untuk menikmati apa yang
telah dimiliki. Misalnya, kita bisa mengenyam pendidikan sampai di perguruan
tinggi adalah karunia Allah yang luar biasa, karena kalau tidak atas izin-Nya
seberapa pun besar ikhtiar kita, pasti juga tidak akan terlaksana. Hal pertama
yang harus kita lakukan adalah sadar dan menyadari akan karunia tersebut.
Kita sadar, bahwa masih banyak
teman-teman di luar sana yang tidak berkesempatan mendapatkan pendidikan sampai
perguruan tinggi, karena urusan ekonomi yang kurang mencukupi, tidak
mendapatkan restu dari orangtua, tidak ada motivasi untuk terus belajar, dan
masih banyak alasan-alasan lainnya. Berangkat dari rasa sadar tersebut,
mengantarkan kita untuk lebih bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan kepada
kita. Adapun wujud rasa syukur tersebut, pastinya tidak hanya cukup berhenti
pada syukur secara lisan saja, namun juga dengan tindakan. Sebagai bentuk
syukur dengan tindakan, yaitu bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, pantang
menyerah, sabar, tekun, dan terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pribadi
yang lebih baik, baik dari segi pengetahuan dan utamanya pada ahklak dalam
kehidupan sehari-hari yang melingkupi akhlak kepada Allah, manusia, dan
lingkungan alam semesta.
Jelas
sudah dalam firman-Nya telah diterangkan, bahwa “Dan (ingatlah) ketika
Tuhanmu memaklumkan, “sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan
menambah nikmat kepadamu tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti
azab-Ku sangat berat.” (AKU.S. Ibrahim: 07). Kesadaran untuk mensyukuri segala
nikmat yang telah dikaruniakan akan membuka pintu kebahagiaan tersendiri bagi
kita. Karunia terbesar sebelum iman, yaitu hidup. Kesempatan hidup merupakan
karunia terbesar dari Allah SWT, karena dengan hidup, itu berarti kita diberi
kesempatan untuk melaksanakan amanah Tuhan kepada makhluk-Nya sebagai khalifah
di bumi. Sebagai khalifah di bumi tidaklah cukup hanya hidup, namun juga
berusaha hidup yang menghidupi. Artinya, hidup yang memberikan makna baik
manfaat untuk diri sendiri dan oranglain. Dikaruniakannya nikmat iman dan
Islam, diharapkan mampu melaksanakan amanah tersebut dengan baik.
Kunci
kebahagiaan kedua, yaitu penghayatan. Kita harus menikmati dan benar-benar
hadir pada setiap aktivitas yang dijalani. Misalnya, makan, kita harus berusaha
hadir menikmati setiap suapan yang masuk ke mulut, setiap bakso yang masuk,
terus menghayati, menikmati sinambi mendo’akan setiap apa-apa yang ada diatas
piring tersebut. Kalau misalkan yang dimakan nasi pecel lele, berarti diatas
piring ada nasi, sayuran, sambal kacang tanah, lele. Untuk menghayati lebih
dalam kita mendo’akan tiap-tiap perantara bahan
yang ada tersebut. Misal pertama nasi, kita do’akan para petani yang
telah menanam padi, para pedagang yang telah menjual beras, karyawan warung
yang telah memasak dan menyiapkannya, pemilik warungnya. Kedua sayuran,
kita do’akan petani sayur yang telah menanam sayuran, para pedagang yang
menjual dan membeli sayuran, karyawan yang memasak dan menyiapkan. Ketiga
sambal kacang tanah, kita do’akan petani yang menanam kacang tanah, yang
menanam bumbu-bumbu di dalam sambal itu, pedagang yang menjual dan membeli
kacang tanah, karyawan yang telah memasak dan menyiapkannya. Ke empat
lele, kita do’akan para pemelihara atau penternak lele, pedagang yang telah
menjual dan membeli lele,
Belajar
untuk mengingat hakikat segala sesuatu yang sampai pada kita, akan membuat kita
sadar, bahwa semuanya ada perantara-perantaranya. Kesadaran tersebut
mengantarkan kita untuk mendo’akan berbagai kalangan dari saudara-saudara kita
yang lainnya. Harapannya semoga do’a kita menjadi salah satu do’a yang
dimustajab, karena masih kita ingat, bahwa salah satu mustajabnya do’a adalah ketika
orang yang dido’akan tidak tahu yang mendo’akannya. Hadirnya diri kita baik
lahir maupun bathin saat momen bersama adalah penting. Disitulah pintu
kebahagiaan akan terbuka, sadar pertemuan ini
tidak akan terjadi kecuali atas izin Allah SWT, berkesempatan duduk bareng lagi
dengan teman-teman, kesempatan melihat wajah teman-teman, bercanda-canda dengan
mereka, mendengarkan suaranya, bisa saling bertukar cerita, sungguh semua itu
adalah kebahagiaan yang nyata apabila kondisi lahir bathin kita hadir di
dalamnya. Sehingga, pertemuan yang ada tidak
hanya sekedar pertemuan fisik tetapi juga pertemuan hati. J
Kunci kebahagiaan ketiga, yaitu
ketersambungan. Hidup itu butuh orang lain, kita butuh cinta dari orang
lain dan mencintai orang lain. Bahagia itu, ketika hadirnya hati kita bersama
orang yang kita cintai, hadirnya kita ketika bertemu dengan teman kemudian
makan bersama, bersendau gurau, berbagi cerita, pengalaman dan lain sebagainya.
Hal itu sangat diperlukan, karena sekarang banyak orang yang merasa kesepian
ada juga yang merasa sepi di dalam keramaian. Sepi di dalam keramaian???
Artinya apa, ketika kita berada ditengah-tengah keramaian ataupun kebersamaaan
namun ternyata hati kita tetap masih merasa kesepian. Coba kita lihat realita
sekarang, ketika kita sedang mengadakan temu kangen dengan teman lama, misal
ada tiga orang,, mereka secara fisik hadir dimeja makan, namun sayangnya belum
sepenuhnya bathinnya hadir di dalamnya, mereka masih sendiri-sendiri dalam
kebersamaan. Buktinya, dikala mereka sudah duduk bareng di meja makan, masing-masing
dari mereka masih sibuk dengan HPnya sendiri-sendiri ada yang masih BBM an, WA,
atau koneksi dengan komunikasi lainnya, sehingga kuranglah energi ketersinambungan
dalam kesempatan pertemuan tersebut. Kuncinya
kebahagiaan, yaitu belajarlah untuk menghadirkan hati dan fikiran kita ketika
bersama dengan orang lain.J
Selain
dari ketiga kunci kebahagiaan di atas, masih banyak lagi kunci kebahagiaan yang
lainnya asalkan kita mau berdzikir dan
berfikir atas nikmat yang telah Allah karuniakan. Kebahagiaan itu, bukan terletak pada semua apa yang telah kita
miliki, tetapi justru terletak pada apa yang sudah kita berikan dan bagikan
kepada orang lain, sehingga orang lain ikut merasakan kebahagiaan dari
kenikmatan yang kita miliki. Kebahagiaan itu akan selalu ada apabila kita lebih
fokus untuk mensyukuri apa yang telah kita miliki dan tidak terisaukan dengan
segala sesuatu yang diinginkan dan belum terpenuhi.
Kita telah diingatkan kembali pada…Agar engkau tidak terlalu bersedih atas
yang terlepas darimu dan agar engkau tidak terlalu bahagia dari apa yang ada
pada dirimu. Kesadaran tersebut akan ada dalam diri ini apabila kita
mau belajar untuk memahami konsep takdir dan mengubah
sudut pandang dari segala sesuatu yang kita jumpai.
Ada
banyak ruang yang
bisa dijadikan kunci kebahagiaan, salah satu kebahagiaan dalam berumah tangga.
Dalam berumah tangga kebahagiaan itu akan ada apabila tidak banyak menuntut
pasangan untuk sempurna, kita juga harus menyadari bahwa diri kita sendiri juga
tidak sempurna, oleh karena itu bagaimana kita belajar untuk bisa mencintai,
dan mencintai itu tandanya yaitu dengan memberi. Memberi disini bukan hanya dari
segi materi namun juga pada segi bathin. Cinta yang langgeng ialah cinta yang
dibangun atas spiritual keTuhanan, cinta yang didasarkan pada dasar tersebut,
kita tidak akan lagi terfokus pada kekurangan pasangan kita namun kita justru
lebih banyak mensyukuri kelebihannya dan lebih banyak berfikir bagaimana untuk
bisa memberi dan melengkapi dari kekurangan yang masih ada.
Komentar
Posting Komentar